11
Feb
09

Pendidikan

robot2

pendidikan seharusnya bukan cuma berupa pelajaran eksak yang diajarkan di bangku sekolah.. duduk manis,, buka buku,, mendengar celotehan guru,, mencatat,, mengerjakan pr,, lalu menghafal mati saat mau ulangan.. padahal realitanya banyak dari kita yang pernah tidur saat pelajaran atau malah membolos,, mengobrol saat guru menerangkan dan mencontek saat diberi tugas,, menertawakan guru di belakang dan cari muka saat nilai ternyata sedikit melenceng dari yang diharapkan.. mendidik tapi tidak bertanggung jawab terhadap hasil didikannya,, dan katanya guru adalah pekerjaan yang mulia..

sering saya lihat di lingkungan saya,, banyak pendidik yang kemudian lepas tangan saat mendapati anak didiknya tidak sesuai harapan.. menduganya malas,, tidak ada motivasi,, atau memang bodoh saja.. bukankah sebagai pendidik seharusnya mendorong,, memotivasi,, menyemangati.? tentu lelah juga berusaha dan pasti merasa sia-sia bila yang dimotivasi sendiri tidak ingin dimotivasi,, tapi memang pekerjaan pendidik itu tidak gampang,, menjadi seorang pendidik bukan cuma membeberkan fakta-fakta,, sejarah,, atau konsep ilmu saja,, menjadi pendidik seharusnya membentuk anak didiknya menjadi pribadi yang mandiri,, makanya pekerjaan sebagai pendidik dimuliakan..

beberapa hari yang lalu,, dalam angkot sadang serang-caringin,, sepulang menginap di rumah Tami,, saya mendengar percakapan seorang guru dan muridnya [yang kalau dilihat dari celana biru tuanya,, masih duduk di bangku SMP],, kurang lebih seperti berikut:

guru:ayah kamu di rumah ga.?

murid:ga tau bu,, tadi sii udah nelpon,, katanya mau pulang..

si guru mendengus,, melihat si murid yang bertindik,, rambut model spike,,dan memakai celana sontog dengan tatapan mencari,, entah apa tapi saya pikir mungkin mencari sedikit saja hal baik yang mungkin masih ada pada muridnya itu..

si guru kemudian menelpon..

guru:pak,, kami sudah dalam perjalan ke rumah bapak,, oh,, iyaa,, maap merepotkan pak,, ahaha,, yaa sudah tugas saya mau bagaimana lagi,, baik,, terimakasih..

si guru mematikan telpon genggamnya,, memasukannya kembali ke dalam tas bahu berwarna cokelat yang disampir diatas pangkuannya,, dan kembali mendikte si murid melalui tatapannya..

saya yang melihatnya saja,, yang tidak dipandang langsung oleh si guru,, rasanya menciut,, merasa kerdil..

guru:kamu ga kasian apa sama bapak kamu.? lagi banting tulang nyari duit buat sekolah kamu,, kamunya malah bandel,, bolos,, jadinya mesti pulang buat ngurusin anaknya yang ga berguna.. kamu kalau bolos itu sebenarnya kemana sii.?

auuw,, menohok..

si murid menunduk,, terdiam,, tersenyum dipaksakan..

guru:kemana.? ngamen bukan.?

si murid menggeleng..

guru:terus kemana.? nongkrong di deket warung tadi itu.?

murid:iya,, seringnya disitu..

guru:sama siapa.? anak sekolah juga.? sebut namanya..

si murid diam,, seperti bingung..

murid:banyaknya anak sma,, yang ga sekolah juga..

wah,, ngeles,, sepertinya si murid mengalihkan pembicaraan agar tidak perlu menyebutkan nama teman-temannya..

guru:minum yaa kamu.? apa.?

si murid diam,, lama..

guru:minum ga.?

murid:ga bu..

ngenyes,, ngenyes..

guru:padahal ibu bisa langsung pulang,, tapi harus ngurusin kamu dulu.. kamu tuu sadar ga sii kamu ngerepotin orang.?

si murid diam saja tidak menanggapi..

yee,, kalau repot yaudah sii ga usah ngurusin,, siapa juga yang minta..

guru:kamu tu kenapa si kelakuannya begini.? ha.? padahal bapak kamu bisa cari ibu baru,, tapi mana ada yang mau kalau tau anaknya kayak gini..

si murid makin menunduk,, terbatuk..

eh,, ga usah sotoy deh.!

si guru menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak..

guru:ade kamu berapa.?

murid:2 bu..

guru:kelas berapa.?

murid:yang pertama kelas 5 yang terakhir belum sekolah..

guru:humm,, ade kamu pasti lebih pinter dari kamu kan.?

si murid diam lagi,, tersenyum sopan..

guru:pasti deh lebih pinter,, ya kan.?

si guru menghela nafas..

guru:repot.. kamu keluar ajah deh yaa dari sekolah.? nanti ibu bilang ke kepala sekolah kalau kamu emang udah ga mau sekolah lagi..

hee.?

rasanya kesal banget melihat penindasan di depan mata.. pengen protes,, eh,, bu,, ibu tuu guru yaa,, apa yang ibu lakukan sekarang ini,, dengan ngomel” ga jelas,, nanya tanpa benar” peduli,, ga membuat keadaan jadi lebih baik,, ga membuat si murid jadi lebih baik.! ngerti ga sii.?! dia sampe kayak gini mungkin ada masalah yaa,, masalah yang ga bisa diomongin,, atau malah ga mau diomongin,, mana mau ngomong kalau orang yang diajak ngomongnya ga peduli,, setidaknya sedikit simpati kek.. nii anak jangan langsung dicap nakal,, jangan cuma gara” tindik atau bolosnya doang terus berarti dia udah ga pantas untuk diusahakan bahkan oleh gurunya sendiri.. langsung diserahkan ke orang tua,, lepas tanggung jawab.. malu ga sii bu dipanggil guru tapi ga bersikap seperti seorang guru.? harusnya seorang guru tuu membantu muridnya agar berkarakter,, bukan malah mebunuh karakter..

tapi karena masalah etika dan angkot yang sudah sampai simpang,, saya mengurungkan niat untuk membela si murid dan malah menghentikan angkot,, membayar,, berjalan pulang melalui gang poci menuju kostan dengan hati ngedumel..

*keluh,, *keluh..

saya jadi teringat guru sma saya.. di saat mendekati waktu pembagian rapot,, beberapa saat setelah ulangan umum,, banyak murid yang berkunjung ke ruang guru untuk meloby nilai.. bikin tugas lagi kah,, remed kah,, sampai ada yang minta cangkokan [padahal guru fisika,, dan cangkokan itu tugas mata pelajaran biologi],, disuruh beliin buku lah.. aneh.. kalau yang remedial sii saya masih ngerti,, tapi cangkokan.? dan teman” saya banyak yang giat meloby guru” saya ini,, bahkan sampai ada yang membelikan bunga anggrek mahal.. beginikah yang namanya pendidikan.?

saya lebih setuju dengan model pendidikan dosen” saya sekarang.. tidak melulu merecoki urusan mahasiswanya.. percaya akan kemandirian kami,, percaya bahwa anak didiknya ini dewasa dan mampu membawa dirinya,, dan saat ada masalah,, dosen” saya ini benar” peduli,, setidaknya begitu yang saya lihat.. meskipun kadang ketus tapi benar” membantu,, membantu mencarikan solusi yang lebih baik [kyaa.! pak Gun,, bae banget deeh.. ahaha]..

masalahnya kan mahasiswa,, kalau menurut saya,, memang sudah pada umurnya untuk bersikap dan berpikir mandiri.. sikap dosen yang membiarkan mahasiswa menjalani hidupnya dengan tetap memberikan pilihan dan membiarkannya menentukan pilihannya,, itu memang tepat,, tapi kalau anak smp.? hanya remaja yang sok dewasa,, perlu bimbingan.. berikan pilihan,, dan arahkan..

saya jadi merasa sangat berterimakasih punya orang tua yang meski masih sangat menjawa,, tapi juga sangat demokrat.. mereka boleh melarang,, dan saya boleh protes,, sampai kami menemukan kesepakatan..

setidaknya saya masih punya guru di rumah yang akan selalu siap sedia mengajarkan persoalan” dalam hidup..

sekarang ini saya sampai pada kesimpulan pemikiran,, bahwasanya pendidikan eksak itu cuma sertifikasi,, cuma regulasi,, cuma persyaratan,, cuma karcis masuk.. saat benar” mandiri menjalani hidup saya nanti,, belum tentu saya ditanya tentang konservasi massa,, atau hukum newton ke-3,, atau persamaan fourrier,, malah bisa jadi tidak akan.. sering kali saya dengar,, kuliah di ITB,, kuliah di teknik itu untuk membentuk pola pikir,, pola pikir keteknikan.. bukan sekedar menghafal penurunan persamaan euler atau mencari distribusi lift pada sayap delta atau menghitung kemungkinan kegagalan material pada sudut turbin,, lebih dari itu,, pendidikan adalah untuk membentuk suatu pola pikir..

dan pola pikir ini adalah salah satu materi penting dalam pembangunan sebuah karakter..

saya harap murid yang tadi saya ceritakan dapat menjadikan pengalamannya sebagai pelajaran,, cukup dewasa untuk menganggapnya sebagai salah satu bentuk pendidikan,, cukup mandiri untuk dapat berdiri sendiri,, dan kalupun tidak mampu,, saya harap dia memiliki guru lain yang dapat menopangnya sementara,, menepuk bahunya,, dan membimbingnya kembali..

seperti yang selalu menjadi moral dalam banyak film animasi,, pelajaran terpenting dalam hidup adalah hidup itu sendiri..


0 Responses to “Pendidikan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.