Archive for the 'Sierra Mist' Category

11
Jun
09

Cinta tanah air

Dari banyak hal buruk mengenai negari ini, dari banyak kemelut yang terjadi di negari ini, dari banyak kepicikan dalam negeri ini, saya [mungkin karena sifat narsisme yang sangat tinggi] selalu dapat menemukan hal membanggakan dari negara yang konon zamrud dunia ini.

rau1teriakan ramai penonton saat menyaksikan langsung pertandingan sepak bola di stadion.

Entah budayanya yang kaya, sumber daya yang beraneka, biaya hidup yang cukup murah, iklim yang hangat, orang-orangnya yang ramah atau sekedar keberadaan tukang baso yang menjajakan dagangannya keliling kompleks, selalu saja ada alasan yang dapat membuat saya membusungkan dada untuk Indonesia.

kejadian-kejadian besar yang sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Ya, saya akui memang ada kekosongan. Kekosongan pada teriakan-teriakan demokrasi yang nyaring tapi melempem, kekosongan pada inisiasi gerakan-gerakan perjuangan yang banyak berhenti pada permulaan, kekosongan hati, kekosongan pikiran, kekosongan nyali. Namun kekosongan ini, saya rasa, dapat memberikan ruang pada yang namanya harapan. Harapan pada cita-cita yang lebih tinggi.

pantai-pantai berpasir putih dengan ombak nomer satu dan terumbu karang yang memukau.

Tumbuh dalam keluarga akademisi, orang tua saya selalu merendahkan intelegensia manusia Indonesia dan mengelukan negara lain baik yang juga masih berkembang, dan terlebih lagi yang telah maju.

orang”nya yang sering kali terlampau ramah.

“tuu de, Singapur tuu negara kecil tapi maju karena orang”nya disiplin,, ga kayak orang Indonesia..” begitu kata ibu saya sembari menyindir orang yang menyelak antrian kami. “tuu de, cina tuu penduduknya banyak banget tapi rajin”,, ulet”,, mau kerja keras,, ga males kayak orang Indonesia,, makanya negaranya bisa maju..” begitu kata ayah saya sembari mengomentari berita mengenai pemenang medali emas Olympiade Matematika di Jerman yang padahal wakil Indonesia meskipun wajahnya oriental.

nidji.

Dan begitu masuk lingkungan yang juga akademisi, teman-teman saya pun cenderung berpendapat sama. Seperti kemarin ketika berdiskusi mengenai politik Indonesia, kursi kepresidenan, dan ramalan Jayabaya, saat menunggu proses pembuatan SKCK di kepolisian Bandara Ngurah Rai. Salah satu teman saya, Janul, berkomentar begini: “gimana Indonesia mau maju coba.? klo masi percaya ama yang mistik” macem ramalan Jayabaya gitu.. jaman kan udah modern..”

kebaya.

Dan saya mengomentari balik: “justru,, klo buat gw sii,, itu malah yang ngebuat Indonesia Istimewa..”

petikan gitar serampangan pengamen yang sebenarnya malak di lampu merah.

rahaha.

software” bajakan yang murah dan gampang didapat.

Kemudian kita asik membicarakan bagaimana seharusnya Indonesia menggunakan kekuatan mistiknya untuk memajukan negaranya atau malah mempertahankan diri dari serangan-serangan luar. Dan yang mengejutkan adalah kata-kata salah satu teman saya yang lain, Aseng, yang bilang: “lah.? lo pikir.? Indonesia menang lawan Belanda cuma berbekal bambu runcing gitu.. apalagi coba klo bukan mistik..”, kita langsung tertawa terbahak-bahak mendengar hal tersebut. Kalau dipikir-pikir, Iyaa juga yaa. Rahaha. Terus kata yang lain: “lah klo gitu kenapa bisa sampe dijajah 3.5 abad.?” dan pertanyaan itu langsung ditangkis dengan jawaban: “kan Belandanya pake taktik adu domba,, jadi pemimpin”nya pada saling nyantet,, abis d..” lalu kita mengangguk-ngangguk dengan serunya..

cilok.

Mungkin itu alasan kongkrit kenapa Indonesia, negara yang katanya kaya dan makmur, sumber daya melimpah ruah, pernah jadi macan asia, dan disebut-sebut merupakan sisa-sisa Atlantis yang tertulis dalam manuskripnya sebagai negara kepulauan dengan peradaban dan teknologi yang sangat maju dibandingkan jamannya, ini kok kayaknya berkembang dengan lambat, tertatih-tatih, dan diiringi keluhan tanpa henti di sepanjang jalan. Saya pikir mungkin karena kesalahan yang sama mulai dari jaman Belanda dulu, karena orang-orangnya pada sibuk saling santet.

ronda malam.

Kurangnya kebanggaan terhadap Indonesia membuat penduduknya tidak malu-malu melecehkan dan merendahkan negaranya sendiri. Saling santet, saling menyakiti, saling melakukan hal buruk satu sama lain. Rasa sakit ini kemudian seolah menunjukan bahwa ada luka menganga yang bernanah di dalamnya. Seperti yang orang-orang di sekitar saya, bahkan saya sendiri, kerap lakukan, merendahkan negara sendiri, melukai jati dirinya yang dulu sempat menggemakan wibawa ke pelosok negeri, memandang sebelah mata pada keindahannya yang diirikan banyak negara lain.

kopi jawa.

Jadi, mari, bukan hanya saat turnamen Thomas-Ubber cup, atau saat ada negara luar yang menginvasi wilayah kita, atau saat ada TKI yang disiksa di negara orang, saja kita bersatu dan berdiri membela Indonesia. Mengeluarkan cakar dan taring demi keharuman nama bangsa. Tapi mulai dari keseharian, dengan membuat KTP, turut serta dalam Pemilu, menonton film-film produksi dalam negeri, mengenal budaya, memperbaiki nilai pelajaran muatan lokal, memperhatikan guru sejarah bercerita, sekedar membuang sampah pada tempatnya, dst.

bunga anggrek yang bisa tumbuh liar di halaman belakang.

Pembentukan paradigma diperlukan, dengan membuat mind-set bahwa Indonesia adalah negara yang patut dibanggakan maka Indonesia akan menjadi negara yang membanggakan. Kalau penduduknya sendiri berpikir buruk mengenai negaranya, janga harap oarang lain untuk berpikir baik. Jangan salahkan mereka yang meremehkan Indonesia, toh kita sendiri juga sering kali begitu.

pasar tradisional dengan budaya tawar menawarnya.

Setidaknya, meskipun rasa bangga belum merekah, ada perasaan memiliki yang tertanam dalam diri. Perasaan, betapa pun jeleknya Negara ini, tapi ini Negara kita, Indonesia kita.

baso dengan kuah panas dan sambal super pedas yang selalu membuat badan berkeringat ketika memakannya.

Seperti potongan rambut yang kependekan, awalnya saya merasa Agnes Monica tampak seperti bencong dengan rambut super pendeknya itu tapi kepercayaan dirinya yang cemerlang malah membuatnya menjadi sangat trendi dan memikat.

summer all the time.

kenakan Indonesia dengan penuh percaya diri, tunjukan pada dunia kemegahannya, tunjukan pada dunia keikhlasannya, tunjukan pada dunia… Indonesia kita.

sendratari Ramayana.

… sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.

Catatan Pinggir-Goenawan Mohamad

[hal” yang saya banggakan tentang Indonesia]




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.